Kenalan sama Dompon yuk sayangku
Sudah kenal sama Dusun Dompon? Pasti belum, deh. Apa sebab? karena gue sadar desa gue pelosok, okeyy, karena tak kenal maka tak sayang, maka cekidot kita kenalan sama desa gue.
Dusun
Dompon merupakan sebuah dusun naungan Desa Purworejo yang terletak kurang lebih
3 kilometer dari Kantor Pusat Kecamatan Suruh ke arah selatan, dan sekitar 2
kilometer dari Kantor Kelurahan Desa Purworejo ke arah selatan. Dusun Dompon
terletak di Desa Purworejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Dusun Dompon
sendiri merupakan dusun terbesar diantara keenam dusun lain di Desa Purworejo.
Dusun Dompon terdiri atas 5 bagian wilayah Rukun Tetangga dari jumlah total 11
RT di Desa Purworejo. Dusun Dompon berbatasan dengan Dusun Babrikan di sebelah
utara, Desa Dersansari di sebelah selatan , Dusun Kalegen di sebelah barat, dan
Dusun Ngemplak di sebelah timur. Dusun Dompon terletak agak jauh dari pusat
pertumbuhan dan perekonomian di Kecamatan Suruh, sehingga menimbulkan kesan
sepi dan “pelosok”, serta jauh dari
keramaian lalu lalang kendaraan. Meskipun begitu, Dusun Dompon memiliki
filosofi yang menarik dan unik untuk dipelajari dan diketahui.
Dompon
berasal dari kata ”Dompol atau Dompo” yang
diartikan menggerombol atau bersamaan. Sesuai arti kata yang telah
disejarahkan, menggerombol atau bersamaan ini sendiri didasarkan pada aktivitas
masyarakat yang selalu terjadi bersama-sama dan berlangsung secara berturut-
turut. Misalnya di Dusun Dompon sedang ada duka atau kematian pada satu warga,
maka kematian akan terjadi pula pada warga-warga lain secara bersamaan dan
berlangsung secara berturut-turut dengan kurun waktu yang tak lama. Tak hanya
pada kematian atau duka saja, aktivitas masyarakat yang mungkin terjadi
bersamaan dan berlangsung berturut-turut dengan jeda waktu yang singkat dapat
juga berupa “ngantenan” atau
pernikahan, “padu” atau maksiat atau
konflik, lahiran bayi dan masih banyak lagi. Istilah “Dompol” yang seiring berjalannya waktu berubah pelafalan menjadi
Dompon itu sendiri diriwayatkan atau dicetuskan oleh seorang kyai bernama Kyai
Kadilangu, Singoyudo, Singoprono, dan Nyai Serang yang kini dianggap sebagai
cikal bakal Dusun Dompon
Disamping
letaknya yang terbilang cukup “pelosok” dan
dibalik filosofinya yang menarik , Dusun Dompon menyimpan banyak keunikan yang
tersimpan dalam bingkai kearifan lokal Dusun Dompon. Keunikan yang tersimpan
didalamnya banyak didasarkan atas kepercayaan, tradisi, dan adat istiadat
masyarakat yang masih melekat sangat kental dalam jiwa. Seperti adanya tradisi nyadran yang dilakukan sebanyak 3 kali
dalam setahun dan wajib dilakukan pada Jemuwah Pon dalam hitungan kalender
Jawa, tradisi “Merti Desa” yang
dimeriahkan dengan pagelaran wayang sebagai wujud syukur terhadap Tuhan atas
melimpahnya hasil tani, dan Paguyuban seni tari “Langen Ponco Sardulo Seto”
yang merupakan hasil pola pikir masyarakat setempat yang kiranya dapat
digunakan untuk menanamkan minat generasi muda pada kesenian lokal dan
melestarikan budaya melalui pengembangan kecintaan terhadap seni, terutama seni
tari itu sendiri.
Dalam
bidang perekonomian, mayoritas masyarakat Dusun Dompon masih menggantungkan
kehidupannya pada kegiatan sekotor pertanian. Mengingat hamparan lahan
persawahan yang masih melimpah ruah, masyarakat Dusun Dompon memaksimalkan
potensi alam yang dimilikinya untuk menunjang kehidupannya, baik untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sendiri maupun untuk menjalankan roda perekonomian, yaitu
melakukan kegiatan ekonomi untuk memperoleh penghasilan.
Mereka
memanfaatkan lahan yang tersedia dengan menanam padi, ketela, kacang, dan
berbagai macam sayur-sayuran. Dengan berbekal kemampuan bertani yang mereka
peroleh secara turun-temurun, mereka mampu mengolah dan memaksimalkan potensi
sumber daya alam hayati tersebut dengan sangat bijak.Disamping bidang pertanian
sebagai penopang utama kegiatan perekonomian, minoritas masyarakat juga bekerja
sebagai karyawan swasta di sebuah pabrik, Pegawai Negeri Sipil, dan wirausahawan.
Pemukiman
yang berderetan sepanjang Dusun Dompon masih tersusun dengan formasi jarak
antar rumah relatif renggang, biasanya dan sebagian besar antar satu rumah
dengan rumah yang lain dibatasi oleh kebun. Walau dalam keadaan jarak antar
rumah sedikit renggang, namun tak mengurangi kerukunan antarwarga masyarakat
untuk melakukan interaksi sosial, masyarakat Dusun Dompon senantiasa menjunjung
tinggi kekeluargaan dan kebersamaan hidup dalam setiap lapisan sosial yang
ditunjukkan dengan adanya Tradisi rewang
mantu, sambatan mbangun omah, dan kumpulan RT yang dilaksanakan
sekurang-kurangnya sekali tiap bulannya.
Dan
dengan adanya tradisi-tradisi yang masih kental melekat dalam kehidupan
masyarakat “Dusun Dompon” ini membuktikan bahwa warga masyarakat Dusun Dompon
masih mempertahankan tradisi leluhurnya. Tindakan dalam tradisi-tradisi
tersebut juga merupakan wujud persembahan yang dimaksudkan untuk menyelaraskan
dan menyeimbangkan hidup antara alam sekitar dengan alam gaib dengan tujuan
memperoleh keselamatan lahir maupun batin.
Selain itu, kebersamaan dan kekeluargaan yang tercermin dalam bingkai Dusun
Dompon dapat memberikan simpulan
bahwasanya masyarakat Dusun Dompon
memiliki sikap sadar sosial dan solidaritas yang tinggi, mampu
mengembangkan potensi dan memaksimalkannya untuk menunjang kebutuhan jasmani
maupun rohani.


Komentar
Posting Komentar